<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/806295993906459800?origin\x3dhttp://filania201189-ain.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

Sunday, October 10, 2010

♥ Telunjuk yang Bersyahadah

Usai membaca kisah ini, aku sudah berjanji pada diri sendiri bahawa aku akan mencari waktu luang untuk menuliskannya kembali. :

Ada banyak peristiwa yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya, lalu peristiwa itu menghantam kami dan mengubah total hidup kami.

Di penjara militer pada saat itu, setiap malam kami menerima orang atau sekelompok orang, laki-laki atau perempuan, tua maupun muda. Setiap orang-orang itu tiba, atasan kami menyampaikan bahawa orang-orang itu adalah pengkhianat negara yang telah bekerjasama dengan agen Zionis Yahudi. Karena itu, dengan cara apa pun kami harus bisa mengorek rahasia dari mereka. Kami harus dapat membuat mereka membuka mulut dengan cara apa pun, meski itu harus dengan menimpakan siksaan keji pada mereka tanpa pandang bulu.

Jika tubuh mereka penuh dengan berbagai luka akibat pukulan dan cambukan, itu sesuatu pemandangan harian yang biasa. Kami melaksanakan tugas itu dengan satu keyakinan kuat bahawa kami telah melaksanakan tugas mulia: menyelamatkan negara dan melindungi masyarakat dari para “pengkhianat keji” yang telah bekerjasama dengan Yahudi hina.

Begitulah, hingga kami menyaksikan berbagai peristiwa yang tidak dapat kami mengerti. Kami menyaksikan para pengkhianat itu senantiasa menjaga shalat mereka, bahkan senantiasa berusaha menjaga dengan teguh qiamullail setiap malam, dalam keadaan apa pun. Ketika ayunan pukulan dan cabikan cambuk memecahkan daging mereka, mereka tidak berhenti untuk mengingat Allah. Lisan mereka senantiasa berzikir walau tengah menghadapi siksaan yang berat.

Beberapa di antara mereka berpulang menghadap Allah, sementara ayunan cambuk tengah mendera tubuh mereka, atau ketika sekawanan anjing lapar merobek daging punggung mereka. Tetapi dalam kondisi mencekam itu, mereka menghadapi maut dengan senyuman di bibir, dan lisan yang selalu basah mengingat nama Allah.

Perlahan, kami mulai ragu, apakah benar orang-orang ini adalah sekawanan ‘penjahat keji’ dan ‘pengkhianat’? Bagaimana mungkin orang-orang yang teguh dalam menjalankan perintah agama adalah orang yang berkolaborasi dengan musuh Allah?

Maka kami, aku dan temanku yang sama-sama bertugas di kepolisian ini, secara rahasia menyepakati, untuk sedapat mungkin berusaha tidak menyakiti orang-orang ini, serta memberikan mereka bantuan apa saja yang dapat kami lakukan. Dengan izin Allah, tugasku di penjara militer tersebut tidak berlangsung lama. Penugasan kami yang terakhir di penjara itu adalah menjaga sebuah sel di mana di dalamnya dipenjara seseorang. Kami diberi tahu bahawa orang ini adalah yang paling berbahaya dari kumpulan pengkhianat itu. Orang ini adalah pemimpin dan perencana seluruh maker jahat mereka. Namanya Sayyid Qutb.

Orang ini agaknya telah mengalami siksaan sangat berat hingga ia tidak mampu lagi untuk berdiri. Mereka harus menyeretnya ke pengadilan militer ketika ia akan disidangkan. Suatu malam, keputusan telah sampai untuknya, ia harus dieksekusi mati dengan cara digantung.

Malam itu seorang syeikh dibawa menemuinya, untuk mentalqin dan mengingatkannya kepada Allah, sebelum dieksekusi.

Syeikh itu berkata, “wahai Sayyid, ucapkanlah la ilaha illallah..” Sayyid Qutb hanya tersenyum lalu berkata,”sampai juga engkau wahai syeikh, menyempurnakan segala sandiwara ini? Ketahuilah, kami mati dan mengorbankan diri demi membela dan meninggikan kalimat la ilaha illallah, sementara engkau mencari makan dengan la ilaha illallah.”

Dini hari esoknya, kami, aku dan temanku, menuntun tangannya dan membawanya ke sebuah mobil tertutup, di mana di dalamnya telah ada beberapa tahanan lainnya yang juga akan dieksekusi. Beberapa saat kemudian, mobil penjara itu berangkat ke tempat eksekusi, dikawal oleh beberapa mobil militer yang membawa kawanan tentera bersenjata lengkap.

Begitu tiba di tempat eksekusi, tiap tentera menempati posisinya dengan senjata siap. Para perwira militer telah menyiapkan segala hal termasuk memasang instalasi tiang gantung untuk setiap tahanan. Seorang tentera eksekutor mengalungkan tali gantung ke leher beliau dan para tahanan lain. Setelah semua siap, seluruh petugas bersiap menunggu perintah eksekusi.

Di tengah maut yang begitu mencekam dan menggoncangkan jiwa itu, aku menyaksikan peristiwa yang mengharukan dan mengagumkan. Ketika tali gantung telah mengikat leher mereka, masing-masing saling bertausiyah kepada saudaranya, untuk tetap teguh dan sabar, serta menyampaikan kabar gembira, saling berjanji untuk bertemu di syurga, bersama dengan Rasulullah tercinta dan para sahabat. Tausiyah itu kemudian diakhiri dengan pekikan, “ALLAHU AKBAR WA LILLAHIL HAMD!” Aku tergetar mendengarnya.

Di saat yang genting itu, kami mendengar bunyi mobil datang. Gerbang ruangan dibuka dan seorang pejabat militer tingkat tinggi datang dengan tergesa-gesa sembari memberi komando agar pelaksanaan eksekusi ditunda.

Perwira tinggi itu mendekati Sayyid Qutb, lalu memerintahkan agar tali gantungan dilepaskan dan tutup mata dibuka. Perwira itu kemudian menyampaikan kata-kata dengan bibir bergetar,” saudaraku Sayyid, aku datang bersegera menghadap anda, dengan membawa kabar gembira dan pengampunan dari Presiden kita yang sangat pengasih. Anda hanya perlu menuliskan satu kalimat saja sehingga anda dan seluruh teman-teman anda akan diampuni”.

Perwira itu tidak membuang-buang waktu, ia segera mengeluarkan sebuah nota kecil dari saku bajunya dan sebuah pulpen, lalu berkata,” tulislah saudaraku, satu kalimat saja… aku bersalah dan aku minta maaf…”

(hal serupa pernah terjadi ketika ustadz Sayyid Qutb dipenjara, lalu datanglah saudarinya Aminah Qutb sembari membawa pesan dari rezim penguasa Mesir, meminta agar Sayyid Qutb sekadar mengajukan permohonan maaf secara bertulis kepada Presiden Jamal Abdul Nasser, maka ia akan diampuni. Sayyid Qutb mengucapkan,” telunjuk yang senantiasa mempersaksikan keesaan Allah dalam setiap shalat, menolak untuk menuliskan barang satu huruf penundukan atau menyerah kepada rezim thawaghit…”

Sayyid Qutb menatap perwira itu dengan matanya yang bening. Satu senyum tersungging di bibirnya. Lalu dengan sangat berwibawa beliau berkata,” tidak akan pernah! Aku tidak akan bersedia menukar dunia yang fana ini dengan akhirat yang abadi.”

Perwira itu berkata dengan nada suara yang bergetar karena rasa sedih yang mencengkam,”tetapi Sayyid, itu artinya kematian….”

Ustadz Sayyid Qutb berkata dengan tenang,”selamat datang kematian di jalan Allah…sungguh Allah Maha Besar!”

Aku menyaksikan seluruh episod ini, dan tidak mampu berkata apa-apa. Kami menyaksikan gunung menjulang yang kokoh berdiri mempertahankan iman dan keyakinan. Dialog itu tidak dilanjutkan, dan sang perwira memberi tanda eksekusi untuk dilanjutkan.

Segera, para eksekutor akan menekan tuas, dan tubuh Sayyid Qutb berserta kawan-kawannya akan menggantung. Lisan semua mereka yang akan menjalani eksekusi itu mengucapkan sesuatu yang tidak akan pernah kami lupakan untuk selamanya… mereka mengucapkan,”la ilaha illallah, Muhammad rasulullah…”

Sejak hari itu, aku berjanji kepada diriku untuk bertobat, takut kepada Allah, dan berusaha menjadi hambaNya yang saleh. Aku senantiasa berdoa kepada Allah agar Dia mengampuni dosa-dosaku, serta menjaga diriku di dalam iman hingga akhir hayatku.

(diambil dari kumpulan kisah: mereka yang kembali kepada Allah, karya Muhammad Abdul Aziz Al Musnad. Penerjemah: Dr. Muhammad Amin Taufiq.)

"...ttp Allah mjdikan kamu cinta kpd keimanan dn mjdikan iman itu indah dlm hatimu." [al-hujurat 7]
9:19 PM
0 commented Leave A Comment




♥ About me

    Ain Zubaidah Binti Salleh. 25. Gadjah Mada University, Yogyakarta

♥ Quotes

    "a girl who wanted to strive hard to be an excellent daie, still confuse in her way towards her clear goal, easily lost in the world called life, try her best living as a medical student yet easily forget what her responsibilities are, dream to become a doctor who can learn together with the patients about the meaning of sabar dan syukur and in the end wish to end the journey at the true destination, jannah... (^o^)/".
    Sesungguhnya Engkau tahu* bahwa hati ini telah berpadu* berhimpun dalam naungan cintaMu* bertemu dalam ketaatan* bersatu dalam perjuangan* menegakkan syariat dalam kehidupan* Kuatkanlah ikatannya* kekalkanlah cintanya* tunjukilah jalan-jalannya* terangilah dengan cahayamu* yang tiada pernah padam* Ya Rabbi bimbinglah kami* Lapangkanlah dada kami* dengan karunia iman* dan indahnya tawakal padaMu* hidupkan dengan ma'rifatMu* matikan dalam syahid di jalan Mu* Engkaulah pelindung dan pembela

♥ berangkatlah kamu, baik dalam keadaan ringan, mahupun berat! [9:41]

  • 1.salimul aqidah -akidah yg sejahtera
  • 2. shahihul ibadah -ibadah yg sahih
  • 3. matinul khuluq -akhlak yg mantap
  • 4. mutsaqqoful fikri -luas pengetahun
  • 5. qowiyyul jismi -sihat tubuh badan
  • 6. qodirun 'alal kasbi -mampu berdikari
  • 7. mujahadatun linafsihi -melawan nafsu
  • 8. harishun 'ala waqtihi -sgt menjaga masa
  • 9. munazhzamun fi syu'unihi -t'susun urusannya
  • 10. naafi'un lighoirihi -bermanfaat pd org lain

♥ Take A Look At The Past